Bacaanku13 Oktober 2026

Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati: Pelajaran tentang Empati dan Kepedulian

Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna mengajarkanku untuk lebih peduli, tidak mudah menghakimi, dan mau mendengarkan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka hadapi. Sebagai guru, aku belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang menciptakan ruang aman bagi siswa untuk bercerita, belajar, dan bertumbuh.

0 views· 0 tanggapan
Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati: Pelajaran tentang Empati dan Kepedulian

Ada buku yang selesai dibaca, lalu ceritanya ikut selesai. Ada juga yang justru meninggalkan pertanyaan di kepala, bahkan setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna termasuk yang kedua.

Kesan pertamaku saat membaca buku ini adalah, ternyata aku sedang melihat dunia dari sudut pandang seseorang yang mengalami perundungan. Dari situ, aku jadi berpikir bahwa kita sebenarnya nggak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di dalam pikiran orang lain. Bisa jadi, seseorang yang terlihat biasa saja sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Bisa jadi juga, dia ingin bercerita, tetapi belum menemukan orang yang benar-benar mau mendengarkan.

Hal yang paling membekas buatku adalah perjalanan Ale, tokoh utama dalam cerita ini. Di tengah masalah yang dihadapinya, pertemuannya dengan berbagai orang justru memberinya perspektif berbeda. Orang-orang yang ditemuinya ternyata juga punya persoalan hidup yang berat, tetapi mereka tetap berusaha menjalani hari-harinya.

Dari situ, aku ikut memikirkan satu hal: setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Kita mungkin hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang, tanpa tahu seberapa banyak hal yang sedang dia hadapi.

Buku ini mengingatkanku untuk tidak mudah menilai orang lain dari apa yang terlihat. Kita nggak selalu tahu cerita lengkap di balik sikap seseorang. Karena itu, kita bisa mulai dari hal sederhana: lebih peduli, mau mendengarkan, dan nggak menganggap remeh perasaan orang lain.

Sebagai calon pendidik, ada satu hal yang terasa relevan buatku: sekolah bukan hanya tempat siswa belajar memahami materi, tetapi juga tempat mereka merasa aman untuk menjadi diri sendiri. Nilai, tugas, dan keterampilan memang penting, tetapi kondisi siswa sebagai manusia juga perlu mendapat perhatian. Bisa jadi, siswa yang terlihat diam, kurang fokus, atau kesulitan mengikuti pembelajaran sedang menghadapi sesuatu yang tidak kita ketahui.

Buat teman-teman yang masih belajar, aku juga ingin mengingatkan bahwa kita nggak pernah tahu sepenuhnya apa yang sedang dialami orang di sekitar kita. Candaan yang menurut kita biasa saja belum tentu terasa menyenangkan bagi orang lain. Jadi, yuk, lebih bijak dalam berkata dan bersikap. Kalau ada teman yang terlihat berbeda dari biasanya, nggak ada salahnya menyapa dan mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.

Kita memang nggak selalu bisa menyelesaikan masalah orang lain. Namun, kita bisa memilih untuk tidak menambah beban mereka. Dan kalau suatu saat kita sendiri sedang merasa kesulitan, ingat bahwa kita nggak harus menghadapi semuanya sendirian. Mencari orang yang bisa dipercaya untuk bercerita juga merupakan langkah yang berani.

Pada akhirnya, buku ini meninggalkan pengingat sederhana buatku: kita nggak harus selalu punya jawaban untuk masalah orang lain. Terkadang, mau mendengarkan, hadir, dan memperlakukan mereka dengan baik saja sudah berarti banyak.

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.