Belajar dari Mereka yang Tak Pernah Kehilangan Rasa Ingin Tahu
Pengalaman menjadi Instruktur Pembelajaran TIK di BLC Surabaya mengajarkan saya bahwa semangat belajar dapat tumbuh di tengah keterbatasan. Mendampingi anak-anak belajar Microsoft Word, Excel, dan desain menggunakan Inkscape membuat saya menyadari bahwa rasa ingin tahu dan kesempatan untuk belajar dapat membuka banyak kemungkinan. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi saya sebagai guru PPLG untuk terus menghadirkan pembelajaran yang bermakna, mendorong siswa berani mencoba, dan menumbuhkan semangat belajar.

Pengalaman menjadi Instruktur Pembelajaran TIK di Broadband Learning Center (BLC) Surabaya menjadi salah satu bagian perjalanan yang membentuk cara pandang saya tentang pendidikan. Di sana, saya bertemu dengan peserta belajar dari latar belakang dan usia yang berbeda. Mulai dari anak-anak sekolah dasar, siswa SMK, hingga masyarakat umum yang ingin mengembangkan keterampilan digitalnya. Dari pertemuan-pertemuan sederhana itu, saya belajar bahwa keinginan untuk belajar bisa tumbuh di mana saja, selama ada kesempatan dan kemauan untuk mencoba.
Saya berkesempatan mendampingi anak-anak di sekitar BLC Dupak, yang kemudian saya dirolling ke BLC Tanah Merah. Sebagian besar peserta merupakan siswa kelas 2 hingga kelas 6 SD. Dalam pembelajaran, saya mengenalkan keterampilan komputer melalui kegiatan yang dekat dengan praktik, seperti mengetik menggunakan Microsoft Word, mengolah data sederhana di Microsoft Excel, dan berkreasi melalui desain menggunakan Inkscape. Selain anak-anak, ada pula peserta dari jenjang SMK yang belajar Excel serta seorang ibu yang memanfaatkan komputer untuk membantu proses penulisan tesisnya. Pengalaman ini memperlihatkan kepada saya bahwa setiap orang datang dengan kebutuhan belajar yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru.
Salah satu hal yang paling saya ingat adalah antusiasme anak-anak ketika mengikuti pembelajaran. Mereka terlihat bersemangat untuk mencoba materi yang saya sampaikan dan mampu mempraktikkannya dengan baik. Suasana belajar bersama mereka juga terasa menyenangkan. Ada kegembiraan tersendiri ketika melihat peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga berani mencoba dan menunjukkan hasil pekerjaannya sendiri.
Namun, ada hal lain yang jauh lebih membekas bagi saya. Beberapa anak rela menempuh perjalanan dari tempat yang cukup jauh, bahkan menyeberangi sungai, hanya untuk datang ke BLC dan belajar komputer. Di tengah keterbatasan fasilitas pembelajaran, usaha mereka untuk tetap hadir menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar tidak selalu datang dengan kondisi yang mudah. Saya justru menemukan semangat belajar yang besar dari anak-anak yang mungkin belum memiliki banyak akses terhadap teknologi.
Pengalaman tersebut mengubah cara saya memandang proses belajar. Saya menyadari bahwa terkadang, yang dibutuhkan peserta didik bukanlah fasilitas yang sempurna atau pembelajaran yang selalu canggih, melainkan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk mencoba. Semangat anak-anak di BLC mengingatkan saya agar tidak terburu-buru menilai kemampuan atau minat belajar seseorang hanya dari kondisi yang terlihat.
Kini, sebagai guru Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG), pengalaman itu menjadi salah satu pengingat bagi saya untuk terus menciptakan pembelajaran yang bermakna. Saya ingin siswa tidak hanya mampu menulis kode atau menyelesaikan tugas, tetapi juga memiliki keberanian untuk mencoba, rasa ingin tahu untuk mengeksplorasi, dan kemauan untuk terus berkembang. Sebab, dari anak-anak yang rela datang jauh demi belajar komputer, saya memahami satu hal sederhana: tugas seorang pendidik bukan hanya mengajarkan apa yang perlu diketahui, tetapi juga menjaga agar semangat untuk belajar tetap tumbuh.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.